Khamis, 13 Disember 2012

Berbaik Sangka Dengan Allah


 
       Hidup kita di dunia ini adalah umpama putaran roda kenderaan. Ada masa sedih, ada masa gembira, ada masa senang dan ada masa susah. Hati kita juga berubah-rubah, ada masa tenang dan ada masa gundah gulana.  Ada masa seronok dan yakin dengan ketentuan Allah tetapi ada masa resah gelisah, kecewa, forbiah, truma dan kadangkala terdetik kenapa berlaku ke atasku? Apa kesalahanku?

        Kesemua peristiwa berlaku di dunia ini, termasuk ke atas diri kita adalah sesuatu ketentuaan Allah s.w.t. yang diciptakan sebagai ujian dan dugaan, untuk Allah s.w.t menguji hamba-hamba-Nya samaada ia ingin bersabar atau tidak. Samaada ia hendak redha atau pun tidak. Samaada ia berbaik sangka kepada Allah s.w.t atau pun tidak.

        Allah berfirman maksudnya  : "Apakah kamu belum tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan bumi, sesungguhnya hal itu telah ada dalam Kitab, sesungguhnya itu bagi Allah sangat mudah" 
(Surah Al-Hajj ayat 70)

         Firman Allah lagi maksudnya : "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (loh mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah ".
(Surah  Al-Hadid ayat 22) 

          Allah berfirman maksudnya : "Tidak luput darpada pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu melainkan (semuanya tercatat) dalam kitab yang nyata (loh mahfuz). " 
(Surah Yunus ayat 61)
 
Walaupun sesuatu peristiwa itu yang berlaku di atas ketentuaan Allah tetap Allah s.w.t memberi pilihan manusia untuk berubah, berusaha, berikhtiar dan berdo'a.

Firman Allah dalam surah Ar-Ra’du ayat 11 maksudnya :
Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya.

Rasulullah bersabda maksudnya :: “Tiada suatu yang boleh menolak(mengubah)qadha' melainkan doa” 

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud : "Allah s.w.t berfirman maksudnya :  'Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku'."
(Hadis RiwayatAl-Bukhari)

        Berdasrkan hadis di atas hanya do'alah satu-satu cara yang boleh di buat untuk merubah apa yang telah ditentukan oleh Allah s.w.t. Ulamak mencadangkan bahawa bila kita berdo'a perlu berulang-ulang kali jangan jemu-jemu dan berserah bulat kepada Allah s.w.t.

Maksud hadis qudsi "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku"

          Bahawa bila kita yakin Allah  akan beri kebahagiaan untuk membina  rumah tangga Muslim dan dikurniakan anak-anak yang soleh dan solehah, maka keyakinan itu akan ditunaikan oleh Allah s.w.t.

           Bila kita yakin Allah akan mengampunkan dosa-dosa kita dan dimasukkan dikalangan hamba-hamba-Nya yang berjaya di dunia dan akhirat maka keyakinan ini akan ditunaikan oleh Allah s.w.t.

            Bila kita yakin bahawa Allah mencintai dan mengasihi kita dan di jauhi dari musibah yang pernah kita alami dengan kekecewaan dan truma sebelum ini, maka keyakinan ini akan ditunaikan oleh Allah s.w.t.

             Bila kita yakin kita akan diberi rahmat oleh Allah s.w.t. dan terpelihara iman dan akidah kita dan mendapat kematian yang baik (mati dalam mengucap kalimah syahadah), maka keyakinan ini akan ditunaikan ole Allah s.w.t.

             Hidup kita di dunia yang sementara ini adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Anggaplah pengalaman lama sebagai iktibar dan kita harus bersyukur kerana kita masih hidup dalam keadaan beriman. Kita diberikan Allah kesihatan tubuh badan dan memiliki rezeki yang tidak putus-putus. Masih mampu berfikir dan masih mampu melaksanakan kewajipan kita kepada Allah s.w.t.  Maka tanda kita bersyukur dan meredhai Allah s.w.t maka kita perlulah baik sangka dengan Allah dan menganggap Qadha' dan Qadar yang telah berlaku itu yang paling baik Allah tetapkan untuk kita. Dengan keyakinan ini akan hilang perasaan kecewa, putus asa, forbia, truma, takut, bimbang, risau, gelisah dan ragu-ragu.

            Hati orang Mukmin tidak pernah takut apa yang akan ditetapkan Allah s.w.t. untuk masa depannya. Kekasih kita yang Maha Berkuasa akan beri dan pilih sesuatu yang baik dan Dia akan menambahkan lagi rezeki dan akan sentiasa menjaga kita dari bala dan bencana dan sentiasa mendorong kita melakukan kebaikan dan amal-amal soleh.

             Alangkan mulianya hati orang Mukmin hidupnya sentiasa memberi kebaikan kepada orang lain dan sentiasa berdakwah dan menyelamatkan manusia daripada kesesatan dan kejahatan. Allah s.w.t akan memberi sakinah (ketenangan) dan kebahagiaan di dunia dan di  akhirat dan akan di tempatkan kita oleh Allah s.w.t di Syurga Firdaus yang paling tinggi tanda kecintaan Allah s.w.t kepada hamba-hamba-Nya.

Ahad, 4 November 2012

IKHLAS,SURGA yang TERSEMBUNYI

Bismillahi minal Awwali wal Akhiri .... Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah.

Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan,

ia tidak memiliki nilai apapun.

Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun.

Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!

Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan.

Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah.

Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggung-jawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.

Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan.

Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan.

Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap.

Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas?

Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah.

Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya.

Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun mencipatkan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin"

(Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas.

Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya.

Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahuakbar.**

Selasa, 23 Oktober 2012

Kenapa Dunia Sembunyikan Fakta Besar Mengenai Ka’bah?



Ternyata Bukan GMT Bukan Di Greenwich, Tapi Di Kaabah (Bukti Fakta Ilmiah)

Kaabah, rumah Allah sejuta umat muslim merindukan berkunjung dan menjadi tetamu – tetamu Allah sang maha pencipta. Kiblatnya (arah) umat muslim dalam melaksanakan solat, dari mana-mana negara semua ibadah solat menghadap ke kiblat ini.

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg bererti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6 dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg bererti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandungi istilah ‘ka’bah’ yang ertinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub pusingan utara bumi.

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di kawasan yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?.”





Para astronot telah menemukan bahawa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara rasmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut ghaib yang sepertinya ada alasan tersembunyi di sebalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan kajian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Kaabah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini dibuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para penyelidik Muslim mempercayai bahawa radiasi ini mempunyai ciri-ciri dan menghubungkan antara Kaabah di planet Bumi dengan Kaabah di alam akhirat.
Makkah Pusat Bumi

Prof. Hussain Kamel mencari suatu fakta mengejutkan bahawa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.
Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis di atas peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan saksama kedudukan ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan unjuran garis bujur dan garis lintang.





Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sukar dan berat itu, ia dibantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeza, dan banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemui, bahawa Makkah merupakan pusat bumi.





Ia menyedari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada masa yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Ogos 1978).
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika kajian-kajian lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahawa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.
Kajian ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeza, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, kajian ini diterbitkan di dalam banyak majalah sains di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Quran al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya ..’ (Asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai erti yang penting di dalam kultur Islam.
Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich

Berdasarkan pertimbangan yang saksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh kajian-kajian dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahawa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang bermula empat dekad yang lalu.
Ada banyak perbalahan ilmiah untuk membuktikan bahawa Mekah merupakan wilayah kosong bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Britain. GMT dipaksakan pada dunia ketika majoriti negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggeris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu solat.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit





Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (Ar-Rahman: 33)
Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang bererti dia, dan ia merujuk pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

Dari ayat ini dan dari beberapa hadis dapat difahami bahawa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Mekah berada di tengah-tengah bumi, maka itu bererti bahawa Mekah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.

Selain itu ada hadis yang mengatakan bahawa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka’bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan yang membentuk bumi)

Isnin, 9 April 2012

Cintanya ALLAH Kepada Kita



Ketahuilah ....
Allah itu mendidik dan mangajar

Tatkala kita dilahirkan
Kita dibela dari setapak ibu jari
Bertaut harap kepada
Ayah dan ibu
Jatuh terpaut sayang kita pada keduanya ..
Sayang kerana dik budi
Sayang itu hanya sandaran
Jambatan kenegeri akhirat

Allah juga memberikan kita
Saudara sedarah sedaging
Dan saudara mara terdekat dan jauh
Lalu diamanahlan kepada kedua orang tua lita
Untuk memupukkan rasa kasih dan sayang
Biar hidup dalam harmoni
Saling hormat menghomati
Namun kasih sayang itu bukan milik mereka
Milik Allah jua yang punya
Lalu hilanglah rasa hasad dan dengki

Allah mehadirkan rasa cinta
Seandainya cinta itu bijak
Cinta itu juga sandaran
Cinta bukan untuk habuan nafsu
Cinta bukan untuk habuan untuk dicemburu
Cinta demi yang satu

Berbenihlah kasih dari ragam cinta
Paksu, nista mahu pun dari dusta
Lahirkah zuriat bauan dari syurga
Jatuh pila kasih kita kepadanya
Kasih yang perlu diisi dengan pengorbanan
Bagai Hajar, Ibrohim dengan Ismail
Kasih yang tidak ada belah bagi
Kasih yang tak punya rasa tamak haloba
Kasih yang tal punya syak dan wasangka

Jika kita memilih untuk hidup
Bersedialah untuk mati
Belajarlah memahami

Hari ini kita masih lagi mengeluh
Kita masih lagi meminta minta
Menagih nagih

Sayangnya Allah
Sedangkan kita tidak pernah berasa terhutang budi
Mana mungkin ada harapan

Kasih Sayang Allah
Sedangkan kita tidak pernah ingin menghormati
Tunjuk ajar yang diberiNya
Mana mungkin ada harmoninya hati

Cinta Allah
Sedangkan kita tidak pernah berbuat untukNya
Malah untuk nafsu musuh kita
Yang menjauhkan kita dari Cinta Allah
Mana munglin adanya Iman

Kasih Allah
Sedangkan kita masing masing tidak amanah
Dengan KekeasihNya dan yang dikasihiNya
Mana mungkin ada ilkasnya

Mana bisa kita merasakannya
Lalu kita katakan kita rindu Allah
Sedangkan kita tidak pernah mempelajari
Apa yang dididiknya dihati kita
Mana mungkin
Mana ada kemungkinannya
Melainkan mustahil belaka ......

Jika kita tahu akan hadirnya mati
Berhenti membuat kerja yang sia sia .....
Bermuhasabahlah ....
Mungkin kerana mata hatimu
Telah lama didekam debu
Atau memang kamu
Dah lagu tu ....

Rabu, 28 Mac 2012

Telah Ku Temui Yang Haq

 

Sebelum memeluk Islam, Umar Al-Khattab sangat membenci Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Umar dikenali sebagai seorang yang keras dan ditakuti kaum Quraisy.
Pada suatu hari, dengan penuh amarah, dia memegang pedang untuk membunuh Nabi Muhammad. Abdullah an-Nahham al-'Adawi kemudian mencegahnya di tengah jalan.

“Aku hendak membunuh Muhammad,”' ujar Umar.
“Apakah engkau akan selamat dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?” tanya Abdullah.

Umar marah mendengar ucapan Abdullah itu.
“Jangan-jangan engkau juga sudah murtad dan meninggalkan agama asalmu?” bentaknya.
“Mahukah engkau kutunjukkan yang lebih memeranjatkan daripada itu, wahai Umar? Sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agama yang engkau anuti.”

Amarah Umar kian menjadi-jadi. Beliau terus menuju ke rumah adiknya. Di dalam rumah, Fatimah (saudara perempuannya) bersama suaminya sedang membaca al-Quran. Umar sempat mendengarnya. Dia terus berhadapan dengan adik dan iparnya.
“Apa yang kalian baca tadi?” tanya Umar.

Namun adiknya cuba untuk menyembunyikan apa yang mereka lakukan.
“Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu?” tanya ipar Umar.

Mendengar soalan itu, amarah Umar semakin membuak. Dia mengasari adik iparnya dengan keras dan Fatimah juga turut ditampar hingga berdarah.
Tiba-tiba Umar terdiam ketika adiknya mengucap dua kalimah syahadat di depannya. Hidayah Allah mulai menyinari hatinya.

Umar lalu meminta adiknya untuk menunjukkan lembaran yang mereka baca. Permintaan itu dipersetujui oleh adiknya setelah Umar membersihkan dirinya. Setelah mandi, Umar membacanya. Hatinya bergetar ketika membaca ayat-ayat Allah itu.

“Ini adalah nama-nama yang indah dan suci,” ujarnya.
Sejak peristiwa itu, Umar pun mengakui kebenaran Islam. Bahkan beliau menjadi pemimpin umat Islam setelah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam wafat.
Kisah kembalinya Umar ke dalam Islam di atas telah menginspirasi dan menjadi hidayah bagi Husein Yee. 

Beliau sungguh terkesima ketika membaca buku tentang Umar Al-Khattab itu. Buku itu dibacanya kerana beliau berasa sukar untuk membaca al-Quran.
Kisah kembalinya Umar kepada Islam membuat Yee tertarik untuk mempelajari Islam.
“Sungguh kitab itu al-Quran itu adalah sesuatu yang luar biasa kerana mampu mengubah pandangan seseorang,” ujar Yee.

Ketika itu, Yee sedang mencari kebenaran tentang Tuhan. Beliau semakin ingin tahu tentang Islam. Beliau mencari al-Quran dan membacanya. Setelah membacanya berulang-ulang, dalam hatinya tertanam sebuah keyakinan. 

“Inilah agama yang selama ini aku cari,” ujarnya sendirian.

Yee berasa Islam lebih rasional dan mampu menjawab pertanyaannya tentang Tuhan.
Menurutnya, agama ini sangat benar sekali. Islam hanya mengajarkan satu Tuhan, iaitu Allah, dan bukan tiga Tuhan seperti konsep Triniti.
“Saya rasa ini adalah mudah,” katanya.

Pada pandangan Yee, tauhid Islam itu begitu mudah dan sangat sederhana. Untuk menjadi Muslim, katanya, seseorang hanya perlu mengucapkan dua kalimah syahadah.
Beliau makin terpesona dengan ajaran yang disebarkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu, kerana Islam tidak mengajarkan kekerasan, tetapi keamanan dan saling menghormati.

Yee juga menyedari bahawa Islam bukanlah sebuah agama eksklusif yang hanya dimiliki atau dipegang oleh sesuatu kumpulan tertentu.

Menurutnya, Islam adalah satu agama yang universal. Allah Subhanahu wa Taala,  Tuhan sekalian alam, tidak hanya untuk orang Arab, tetapi juga untuk orang Cina, Negro, dan semua manusia di atas muka bumi ini.

“Islam adalah agama untuk semua,” ujarnya.
Sebelum memeluk Islam, Yee adalah penganut Buddha. Ia mula melakukan carian, setelah merasa agama yang dipeluknya itu tidak lagi memuaskan hatinya. Beliau menilai bahawa ajaran agamanya sudah tidak lagi sesuai dengan yang diajarkan Gautama.

Menurut Yee, Gautama bukanlah Tuhan yang harus disembah. Gautama adalah seorang Pangeran yang berkelana mencari kebenaran. Lalu dia mendapat 'pencerahan' dan digelar Buddha. Dia memberikan ajaran-ajaran yang diperolehmya daripada pengabdiannya.
“Sungguh Gautama tidak mendakwa dirinya sebagai Tuhan,” kata Yee dalam sebuah acara The Deen Show.

Menurutnya lagi, dalam menjalani kehidupan beragama, seseorang harus benar-benar mendalami apa yang dianutinya.

Beliau mendalami agama tradisionalnya dengan bekerja di biara. Lama mengabdi pada biara membuatnya sedar bahawa apa yang dilaksanakan manusia dalam lingkungannya sudah melencong dari ajaran Gautama. Mereka mula memuja dan berdoa kepada Gautama, yang sama sekali tidak membenarkan orang untuk memujanya.

Dengan perasaan kecewa, beliau lalu pindah keyakinan menjadi seorang penganut Kristian, agama yang dianuti ramai penduduk di China.
Pada masa awal menjadi seorang Kristian, lelaki yang berusia sekitar 60 tahun itu menganggap Kristian sebagai agama yang indah.

“Saya berasa sangat indah kerana Kristian mengajar tentang cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama jiran,” kenangnya.
Selain itu, menurut Yee, Kristian adalah agama yang sangat mudah.

“Sebagai contoh, ketika seseorang melakukan kesalahan, lalu dia melakukan pengakuan di depan pendeta, maka dosanya akan hilang dan dia bersih kembali. Dan itu  sangat mudah,” tuturnya.

Beliau lalu mengajarkan agama Kristian kepada orang-orang di sekitarnya. Beliau pun sempat komited dengan sekolah mubaligh untuk menyebarkan Kristian. Yee sempat berfikir dirinya akan menjadi orang yang sangat egois apabila menyimpan sendiri agamanya.

Yee kembali ke dalam lingkungannya dan menyebarkan Kristian kepada mereka. Untuk menjadi seorang mubaligh, Yee mengaku perlu mempelajari banyak hal tentang Kristian.
“Saya harus mempersiapkan diri dan belajar lebih dalam mengenai Kristian dan Triniti yang menjadi inti daripada agama cinta ini,” ceritanya.

Kegundahan kembali menerpa hatinya ketika Yee mempelajari Triniti. Tidak mudah baginya untuk menerima konsep “Tiga Tuhan” ini.
Sukar baginya mempercayai seseorang menjadi Tuhan yang menjadikan manusia yang fana. Kekeliruan itu disampaikannya kepada seorang pendeta.

Kepada pendeta itu, Yee bercerita betapa hatinya sukar sekali mencari kebenaran akan Kristian. Paderi tersebut berkata pada Yee,

“Bersabarlah, Roh Kudus akan datang padamu dan memberikanmu pencerahan.”

Yee pun menunggu dan menunggu akan kedatangan Roh Kudus. Akan tetapi, yang ditunggunya tidak kunjung hadir. Padahal beliau ingin sekali menyebarkan Kristian kepada teman-temannya. Saat itu, Yee berfikir mereka akan masuk neraka apabila tidak menganut Kristian. Beliau menganggap mereka itu tersesat.

Pada masa yang sama, Yee memiliki teman-teman Muslim. Namun, beliau sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Islam.

Pada awalnya, Yee berfikir bahawa Islam adalah agama untuk orang-orang tertentu saja, bukan agama untuk semua manusia.

Ketika masih mempercayai Kristian, beliau ingin sekali mengajak teman-temannya yang Muslim untuk berkongsi agama yang dianutinya. Beliau ingin mengatakan, “Tuhan mati untuk menyelamatkan kita semua.” Tetapi dalam diam, Yee mempelajari agama Islam.
Malangnya, katanya pada era 1960-an, mereka yang bukan Islam tidak dibenarkan membaca al-Quran. Ia berterusan hinggalah akhirnya beliau membaca buku tentang Umar bin Khattab.

Sejak itulah, Yee mula mencari apa yang dicarinya selama ini. Beliau mencari kebenaran dalam Islam.

Menurutnya, Islam adalah agama perdamaian, kerana ia diciptakan untuk semua. Bagi Yee Islam adalah sebuah akronim daripada ‘I Shall Love All Mankind’ (Saya mencintai seluruh umat).

Kini, Yee menjadi seorang penceramah. Di pelbagai tempat dan kesempatan, beliau selalu menyampaikan dakwah Islamnya.
Menurut Yee, Sidharta Buddha Gautama bukanlah Tuhan kerana kata Gautama, dia mempercayai bahawa Tuhan itu satu (monoteisme). Dalam perjalanannya, Gautama selalu berdoa kepada Pencipta.

Katanya lagi, dalam Darma Gautama, juga diajarkan adanya qada dan qadar, yang disebut “sukha dan Dukkha”. Yee mencontohkan ketika seseorang berbuat kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala atas kebaikannya dan begitu juga sebaliknya.
Dalam penelitiannya terhadap Buddha dan Islam, Yee berasa ada suatu kaitan antara kedua-duanya. Sebahagian besar ajaran Gautama mengarah kepada ajaran Islam iaitu tauhid. Dan beliau percaya Gautama adalah satu daripada beratus-ratus nabi yang Allah turunkan ke dunia untuk menyebarkan agamanya.

Hal ini diyakininya kerana beliau percaya Allah tidak hanya menurunkan nabi di Arab sahaja, tetapi di seluruh dunia.
“Kerana Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi untuk seluruh umat manusia,” katanya lagi.

Atas keyakinan itu, beliau berusaha untuk mengajak semua orang membaca al-Quran. Walaupun bukan umat Islam, kata Yee, mereka akan menemui kebenaran dalam al-Quran tersebut.

Yee tidak akan memberi komen jika seseorang atau kerabatnya menganggap orang Islam itu jahat atau buruk, kerana sama seperti agama lain di dunia ini, ada Muslim yang baik dan yang buruk.

“Namun apabila seseorang mengatakan Islam itu buruk, maka saya akan marah. Selain itu seseorang tidak boleh menghakimi Islam itu buruk kalau dia belum benar-benar mengenali Islam,” katanya.
Justeru, beliau  meminta agar setiap orang berusaha untuk membezakan Islam dan Muslim, agama dan negara, serta agama dan tradisi.